TEKNIK MENULIS BERITA



Teknik menulis berita

                Yang perlu diperhatikan dalam menulis berita :
1.      Kita harus memperhatikan unsur-unsur penting dan menarik untuk dijadikan berita.
Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah kejadian memiliki nilai berita, yaitu :
a.       Kedekatan
b.      Ketenaran
c.       Aktualitas
d.      Dampak
e.      Keluarbiasaan
f.        Konflik
g.       Keganjilan
2.      Sumber berita Menggali dan mengidentifikasinya
Sumber berita adalah orang atau peristiwa. Dalam pembahasan sumber berita sering dirancukan dengan cara perolehan berita. Namun seringkali orang menyatukan keduanya sebagai sumber berita. Cara yang digunakan wartawan untuk memperoleh berita biasanya mengunakan bentuk seperti wawancara, observasi ( pengamatan ), press release / press conference, studi kepustakaan, atau pernyataan (statement ) dari sumber berita.
3.      Pertimbangan dalam memilih sumber berita
Dalam mempertimbangkan pemilihan sumber berita kita harus melihat sense of news dari wartawan. Sense of news adalah kepekaan wartawan dalam mengindra sebuah berita. Dengan pengetahuan tersebut kita bisa menimbang orang dan peristiwa atau mengeksplorasi orang dan peristiwa sehingga bisa menjadi sebuah berita. Seorang wartawan juga harus bisa menghubungkan orang dan peristiwa dengan konteks social, regional, local, atau nasional dari pembacanya. Selain itu wartawan juga harus melihat minat baca pembaca berita ( interest of reader ). Jika pembaca melihat pohon sebagai sesuatu yang menarik, maka pohon tersebut dapat dijadikan sumber berita.
4.      Sumber perolehan informasi di media massa
Dalam pekerjaan media massa kita selalu dikejar oleh waktu, seringkali jumlah wartawan yang tersedia atau waktu yang tersedia tidak memadai. Oleh sebab itu berita / tulisan yang ada di media massa khususnya surat kabar memiliki jaringan sumber perolehan berita sehingga berita cepat diperoleh dan besar kuantitasnya. Terdapat beberapa sumber perolehan berita :
1.       Staf surat kabar ( personal yang bekerja pada redaktur surat kabar )
2.       Koresponden ( wartawan yang bekerja untuk media atau kantor berita yang tidak berkantor dikantor redaksi)
3.       Kantor Berita ( lembaga yang khusus menghimpun berita dalam dan luar negeri yang kemudian dijual ke pola media massa )
4.       Orang-orang Publisitas ( orang-orang yang bekerja mempopulerkan orang atau peristiwa )
5.       Features Syndicates ( lembaga yang khusus menjual feature kepada penerbit)
6.       Volunteer Staff ( orang awam yang yang bukan kalangan pers akan memberi informasi berharga tentang gejala dan kejadian yang bisa diangkat sebagai berita )
5.      Metode perolehan berita
Dalam mengetahui sumber berita sama pentingnya dengan mengetahui bagaimana mengubah sumber berita menjadi informasi.  Dalam perkembangan jurnalistik mutakhir yang mengutamakan presisi atau ketetapan, maka angka dan data dari keputusan juga ambil peranan penting. Terutama di era serba cepat, arus informasi dituntut pesat sehingga kejadian terbaru harus selalu didukung data masa silam untuk mempermudah pembaca. Metode untuk memperoleh berita :
a.       Wawancara
Kegiatan bertanya terhadap narasumber yang tujuannya untuk memperoleh informasi tentang suatu hal. Terdapat beberapa beberapa jenis wawancara,
1.       Wawancara untuk Berita
2.       Wawancara untuk Features dan Orang terkenal
3.       Wawancara Biografi
Yang dapat dilakukan melalui telefon, secara tertulis, persiapan wawancara
b.      Observasi
pengamatan wartawan melalui indranya tentang peristiwa atau situasi tempat dia mencari berita.
c.       Riset Keputusan
Usaha untuk memperoleh informasi tertulis dari sumber kepustakaan, bukan wawancara.

d.      Press relesse atau Press Conference
Pertemuan formal dimana narasumber menyampaikan informasi penting pada waktu dan tempat yang ditentukan kepada wartawan yang diundang dan berkumpul secara bersamaan.
e.      Statement of Informan
Pernyataan informan dari kalangan orang jalanan (tipster), kenalan wartawan atau ilmuan yang menekuni satu bidang tertentu adalah bahan yang berharga untuk dijadikan berita.
6.      Mengumpulkan fakta
Fakta adalah suatu peristiwa yang terjadi dan dapat diperiksa atau dibuktikan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi. Dalam dunia jurnalisme, ada dua fakta.
Pertama, fakta sosiologis. Ini menunjuk kepada suatu peristiwa atau fakta yang kebenarannya dapat dibuktikan melalui panca indera kita.
Kedua, fakta psikologis. Fakta psikologis adalah fakta yang isinya berupa pendapat atau kesaksian seseorang tentang suatu peristiwa atau isu. Dalam meliput suatu peristiwa, pewarta biasanya akan mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis sebagai bahan untuk membuat berita. Mengapa? Karna tidak ada pewarta yang dapat melihat seluruh fakta sosiologis secara utuh, pasti ada bagian tertentu yang tidak diketahuinya. Kedua, pewarta tidak selalu bisa menyaksikan kejadian suatu peristiwa sosiologis. Pewarta terkadang baru menyaksikan ketika peristiwa itu sudah terjadi dan hanya dapat melihat jejak-jejaknya saja. Untuk menyusun cerita, ia perlu fakta psikologis dari seorang saksi mata yang melihat peristiwa itu secara langsung. Ini berguna untuk menyajikan berita selengkap mungkin.
Jadi, ketika membuat berita soal fakta sosiologis, pewarta pasti akan mengumpulkan fakta psikologis pula. Ketika mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis, pewarta harus bersikap skeptic tidak mudah percaya terhadap seluruh fakta yang diperolehnya (Ishwara, 2005:2). Semua fakta harus diverifikasi secara ketat untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Pewarta perlu melakukan cek dan ricek untuk memastikan kebenaran fakta-fakta yang diperolehnya.
Selain itu, ketika mencari fakta psikologis, pewarta harus menemui narasumber yang tepat dan sesuai untuk memberikan pernyataan sesuai dengan peristiwa yang sedang diliput. Untuk contoh kasus di atas, narasumber yang tepat dan berwenang memberikan pernyataan adalah masinis kereta api yang mengalami kecelakaan, saksi mata yang melihat langsung kejadian itu, dan lain-lain. Ketika seluruh fakta sudah diperoleh, tahap selanjutnya adalah menulis berita. Memang karena keterbatasan tempat dan durasi (waktu) mungkin tidak semua fakta dapat masuk dalam berita. Pilih fakta-fakta yang paling penting dan sesuai saja.
7.      Persiapan Peliputan
kita dituntut untuk selalu belajar sesuatu yang baru. Memang tidak perlu sangat mendalam, tetapi ada baiknya kita tahu soal-soal yang mendasar dalam berbagai topik, misalnya politik, ekonomi, budaya, sosial, perubahan iklim. Untuk ini, pewarta harus rajin membaca, sebab membaca itu ibarat bensin yang akan memberikan energi sehingga kita dapat lancar menulis.Apalagi saat ini, pengetahuan-pengetahuan baru cepat muncul, pewarta harus selalu update! Dengan memiliki banyak pengetahuan maka kita tidak akan ‘blank’ sama sekali saat meliput pelbagai peristiwa berbeda setiap hari. Setidaknya, kita tahu, aturan-aturan dasar berkaitan dengan peristiwa yang kita liput.
Jika kita memiliki waktu dan tahu persoalan khusus yang akan kita liput, sempatkan membuat penelitian kecil-kecilan untuk mendalami persoalan itu. Kita bisa bertanya kepada ‘Paman Google’. Dengan berbekal ini, maka kita dapat mengetahui latar peristiwa sehingga dapat menuntun kita dalam bertanya kepada narasumber dan memilih sudut pandang yang tepat. Percaya atau tidak, saat wawancara banyak pertanyaan dari pewarta yang dimentahkan narasumber. Karena si pewarta salah bertanya akibat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun soal peristiwa yang diliputnya.
Membuat garis besar liputan (outline) adalah langkah penting sebelum meliput. Garis besar liputan membantu pewarta untuk fokus pada penelusuran sumber utama peristiwa. Outline terutama penting untuk membuat liputan panjang, misalnya liputan mendalam dan laporan investigasi. Siapkan peralatan. Untuk melakukan liputan, pewarta harus membawa peralatan yang dibutuhkan, misalnya, buku tulis untuk mencatat dan tentu saja alat tulisnya. Cek apakah buku tulis dan alat tulisnya masih dapat digunakan. Selanjutnya alat perekam, kamera, dan kamera video. Periksa apakah semua masih berfungsi dan pastikan batereinya belum habis. Alat perekam suara sangat penting, apalagi untuk meliput peristiwa konflik.  Dengan alat  perekam, kita punya bukti kuat andai berita kita dipersoalkan.
Jika melakukan liputan di suatu tempat yang jauh, siapkan pula perbekalan, terutama air minum. Baterei handphone juga harus penuh supaya siap digunakan, terutama bila terjadi situasi darurat. Kalau melakukan peliputan di wilayah konflik, baca kembali prinsip-prinsip cara meliput yang aman, agar tetap aman dan dapat menulis berita atau jangan lupa bawa kartu identitas dan kartu pers.
8.      Pahami Ragam Peristiwa
Ada beberapa macam peristiwa yang diliput pewarta. Secara garis besar, peristiwa dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu peristiwa momentum, peristiwa teragenda, dan peristiwa fenomena (Ahsoul, 2000: 31).
1.       Peristiwa Momentum
Peristiwa momentum adalah peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tidak di sangka-sangka. Nilai aktualitas peristiwa jenis ini tinggi. Apabila peristiwa itu penting diketahui masyarakat (publik) maka pewarta harus meliput dan memberitakannya sesegera mungkin. Misalnya banjir, perampokan, tabrakan kereta api, gempa bumi, dan lain-lain. Meskipun peliputan dilakukan dengan tergesa-gesa, pewarta harus tetap cermat dan teliti. Satu hal yang harus selalu dijaga adalah akurasi!. Saat ini peristiwa momentum menjadi andalan bagi pewarta warga. Jumlah pewarta media arus utama sangat terbatas, mereka tidak memiliki pewarta maupun kontributor berita di setiap kota. Akibatnya, pewarta media arus utama selalu datang setelah peristiwa terjadi. Sebaliknya, pewarta warga ada di mana-mana. Mereka dapat mendokumentasikan dan menulis kejadian sesegera mungkin dengan alat-alat yang tersedia.
2.       Peristiwa Teragenda
Peristiwa teragenda adalah peristiwa yang kejadiannya dapat diketahui sebelumnya. Contohnya, lomba melukis di balai desa, pertandingan sepak bola antarkampung, dan pelatihan internet di radio komunitas. Meliput peristiwa teragenda memberi peluang bagi pewarta untuk melakukan persiapan. Supaya berita tidak membosankan atau datar-datar saja, pilih sudut pandang yang paling menarik.
3.       Peristiwa Fenomena
Peristiwa fenomena terdiri atas sejumlah kejadian yang menggejala. Belum tentu antara satu peristiwa  dan peristiwa lainnya tampak pertautan yang jelas. Peristiwa bisa bermunculan di sejumlah tempat yang tersebar dan mencuat pada waktu yang berbeda sehingga seolah berdiri sendiri. Setelah frekuensi kemunculannya semakin tinggi, baru mudah melihatnya sebagai fenomena. Sering kali gejala itu berlangsung tanpa pertanda yang tegas karena terabaikan. Pewarta warga harus menafsirkan hubungan antarperistiwa sebelum dapat memahaminya sebagai suatu fenomena. Meliput fenomena memerlukan pendalaman masalah, kesabaran, kecermatan, kepekaan, dan sikap kritis. Oleh karena itu, peliputan peristiwa­ fenomena­ sering menghasilkan laporan mendalam.
9.      Menulis berita menggunakan bentuk piramida terbalik
Bentuk piramida terbalik menyajikan fakta dalam urutan menurun, dari yang paling penting ke yang paling kurang penting. Menulis pernyataan focus menyatakan, dalam satu atau dua kalimat, isi berita bukan hanya membantu dalam menulis teras ringkasan berita dan juga menjaga penulis tidak keluar dari jalur saat mengembangkan berita. Setelah teras berita ditulis fakta lainnya harus direview lagi. Jika beberapa pertanyaan lima W dan satu H tidak ada dalam teras berita itu, maka jawabannya itu perlu dimasukan dalam isi berita. Paragraph dalam berita baru biasanya pendek dan biasanya dengan satu fakta atau sama opini dan keterangan seseorang dalam satu paragraf saja. Untuk menghindari pola yang monoton jumlah kalimat dalam paragraf harus berfariasi dari satu paragraf ke paragraf selanjutnya.
Kontinuitas dapat dicapai dengan mengaitkan informasi-informasi dalam satu kesatuan, atau dengan cara seperti :
1.       Kata ganti
2.       Pengulangan kata kunci dari paragraf atau kalimat sebelumnya
3.       Mengunakan synonym yang merujuk ke kata kunci dalam paragraf sebelumnya
4.       Elaborasi detail dalam urutan logis atau berdasarkan urutan arti pentingnya
5.       Kata transisi

10.  Judul Berita
Struktur berita biasanya terdiri dari judul, teras berita, batang tubuh, dan penutup. Jadi, Yang pertama adalah judul. Judul biasanya terdiri atas satu klausa yang mengandung sari informasi yang termuat dalam tulisan. Bila diperlukan, judul bisa didampingi informasi tambahan berupa subjudul. Biasanya subjudul ditempatkan di atas judul. Berikut ini pertimbangan-pertimbangan untuk membuat judul:
Pilihlah kata-kata yang mudah dipahami pembaca;
1.       Utamakan kalimat aktif dengan menghilangkan awalan. Kata-kata berbentuk pasif tidak boleh dihilangkan awalannya sebab akan bermakna sebaliknya.
2.       Jangan berupa kalimat, karena judul bukanlah kalimat melainkan klausa.
3.       Hindari penggunaan singkatan yang belum akrab di masyarakat.

11.  Teras Berita
Teras berita (lead) merupakan bagian penting dalam berita. Bagian ini harus dibuat semenarik mungkin untuk memikat para pembaca agar mau membaca berita yang kita buat. Teras berita itu ibarat umpan jika kita sedang memancing ikan. Bila kita memberi umpan yang menarik, tentu ikan mau menggigitnya. Namun, jika tidak menarik tentu ikan akan membiarkannya begitu saja. Begitulah kira-kira tamsil dari teras berita. Selain harus menarik, teras berita, dalam berita langsung berisi inti sari dari seluruh berita yang kita buat. Sebisa mungkin, unsur berita (5W + 1H) termuat dalam paragraf ini. Teras berita terdiri dari satu paragraf. Buatlah paragraf yang tidak terlalu panjang.
a.       Ringkasan
Materi yang ditulis dalam teras berita adalah inti berita. Teras berita ini berisi empat keterangan penting: (1) Peristiwa apa yang terjadi (2) Lokasi kejadiannya  (3) Pihak yang terlibat dalam peristiwa itu dan (4) Kapan peristiwa terjadi. Teras berita jenis ini paling banyak digunakan untuk berita-berita langsung.
b.      Bercerita
Teras berita bercerita menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Pembaca masih bertanya apa yang terjadi.
c.       Deskriptif
Teras berita deskriptif memberikan gambaran pada pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.
d.      Pertanyaan
Teras berita pertanyaan menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Teras berita jenis ini sebaiknya hanya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.
e.      Menuding
Teras berita ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara”. Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.
f.        Gabungan
Teras berita gabungan adalah gabungan dari beberapa jenis teras berita di atas.
12.  Tubuh Berita
Tubuh berita merupakan tempat di mana seluruh informasi dijelaskan secara rinci. Seluruh fakta yang kita dapatkan di lapangan, dirangkai dan dijelaskan secara kronologis dalam bagian ini. Satu hal yang harus diingat, seluruh penjelasan harus fokus kepada satu tema persoalan yang diangkat. Tubuh berita terdiri atas sejumlah alinea. Setiap alinea berisi satu gagasan dan disambung dengan alinea selanjutnya yang berisi gagasan lainnya yang berkaitan. Begitu seterusnya hingga membentuk satu tulisan (berita) yang menjelaskan fokus persoalan. Dengan kata lain ada keterkaitan antara alinea satu dengan lainnya. Sertakan pula kutipan, yaitu pernyataan dari narsumber kita. Jangan lupa jelaskan atau berikan keterangan siapa yang menjadi narasumber kita agar pembaca bertambah yakin dengan pernyataannya. Karena itu pilihlah narasumber yang bisa dipercaya.
Kutipan bisa langsung maupun tidak langsung. Kutipan langsung digunakan untuk menjelaskan pernyataan narasumber yang penting. Dengan kutipan ini, seolah-olah narasumber berbicara langsung kepada para pembaca, pendengar, atau pemirsa berita. Ini juga untuk menghindari kita salah dalam mengutip. Sedangkan kutipan tidak langsung bisa digunakan untuk penjelasan saja. Di dalam setiap alinea ada kutipan langsung dari narasumber. Buatlah berselang-seling agar berita enak dibaca. Setelah selesai menulis berita, cobalah baca dan teliti kembali. Cek apakah berita yang kita tulis sudah jelas atau belum. Periksa pula seluruh informasi yang kita tulis apakah sudah sesuai dengan fakta-fakta yang kita temukan di lapangan, bagaimana dengan tata bahasa dan ejaan kata-katanya, apakah sudah sesuai dengn EYD?. Dan yang sangat penting adalah apakah ada pasal kode etik jurnalistik yang dilanggar? Jika ada bagian yang dirasa melanggar kode etik, maka segera hilangkan atau perbaiki, mungkin dengan liputan lagi dan sebagainya. Ini sangat penting karena kredibilitas kita sebagai pewarta dapat runtuh bila ada pasal kode etik yang dilanggar.
13.  Penutup
        Penutup berita merupakan bagian akhir tulisan atau paragraf terakhir. Meskipun bagian akhir, apakah ini merupakan bagian yang dapat dianggap paling tidak penting? Belum tentu, tergantung dari jenis berita yang kita buat. Untuk berita langsung, bagian akhir berisi informasi yang paling tidak penting. Untuk ini memang tidak terlalu sulit membuatnya. Cukup tempatkan informasi yang kalau tidak diketahui, pembaca tidak akan kehilangan konteks berita.


Sumber Buku :
Edisi Kesebelas, Judul Buku “ Pengantar Dasar Jurnalisme “  Penerbit “Kencana  Prenada Media Group. Penulis (Tom E. Rolnicki, C. Dow Tate, dan Sherri A. Taylor)
Buku Materi Pokok, SKOM 4330/3SKS/Modul 1-9. Judul Buku “ Teknik Mencari dan Menulis Berita ” Penerbit “ Universitas Terbuka Februari 2001 ’’ Penulis (Dra. Ina Ratna Mariani, M.A. dan Drs. June Kuncoro H).
Judul “ Pewarta Warga ” Penerbit “COMBINE Resource Institution Jl. KH Ali Maksum No 183 Sewon Bantul Yogyakarta Indonesia - 55188 t : +62 274 411 123 dan e : office@combine.or.id. ” Penulis “ Yossy Suparyo dan Bambang Muryanto ”.



Previous
Next Post »

Transportasi dari Malang ke Semarang

Jika kalian dari Malang ingin pergi ke Semarang, ada beberapa transportasi yang bisa kalian gunakan melalui jalur darat. Diantaranya adalah ...